JOGJA — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Yogyakarta menargetkan penambahan dua hidran kampung baru hingga 2029. Hal itu disampaikan Kepala Damkarmat Kota Yogyakarta, Taokhid, Senin (31/8/2026), di sela evaluasi program penguatan sumber air pemadam.
Taokhid mengatakan pembangunan dilakukan bertahap dan menyasar wilayah yang dinilai paling membutuhkan. Kampung padat dengan jalan sempit menjadi prioritas utama karena kendaraan pemadam kerap kesulitan masuk.
Perbedaan Spesifikasi Teknis Hambat Pemadaman
Kebutuhan hidran di kota ini baru terpenuhi setengahnya. Sebagian fasilitas justru dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan pemerintah provinsi, bukan seluruhnya oleh Damkarmat.
Namun, pembangunan oleh pihak lain itu kerap menimbulkan persoalan teknis. Taokhid menyebut sejumlah hidran yang terpasang tidak sesuai standar dinasnya, terutama pada model sambungan selang.
"Kadangkala permasalahannya aspek teknisnya tidak sesuai dengan apa yang kita standarkan," ujarnya.
Damkarmat menggunakan model sambungan yang memudahkan petugas saat merespons kebakaran. Sementara beberapa hidran lain memakai model ulir yang dinilai lebih kuat, tetapi butuh adaptor tambahan.
"Kalau mereka pakai ulir. Memang kalau ulir dari aspek kekuatannya lebih kuat. Cuma kita akhirnya harus menambah adaptor," katanya.
Biaya Perawatan Terkendala Status Aset
Pemeliharaan hidran juga belum berjalan optimal. Damkarmat tidak bisa menganggarkan biaya perawatan untuk fasilitas yang belum tercatat sebagai aset dinas.
"Untuk perawatan atau pemeliharaan, kita tidak bisa menganggarkan karena aset belum masuk di kita," ujarnya.
Akibatnya, sejumlah titik hidran yang rusak belum mendapat penanganan lanjutan. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemkot.
Kampung Pajeksan Masih Menunggu Realisasi
Salah satu wilayah yang dinilai mendesak mendapat tambahan hidran adalah Kampung Pajeksan. Kawasan di sekitar Sungai Filosofi ini memiliki permukiman sangat padat dengan risiko kebakaran tinggi.
"Di kawasan Sungai Filosofi itu masih ada, seperti di Pajeksan," kata Taokhid.
Pemkot sebelumnya telah mengusulkan pembangunan hidran di Pajeksan melalui buku kuning, namun belum mendapat alokasi anggaran akibat kebijakan efisiensi. Damkarmat kini mencoba kembali memasukkan usulan tersebut lewat skema Dana Keistimewaan (Danais).
"Kita coba masukkan lagi," ujarnya.
Tantangannya, mekanisme penganggaran Danais membutuhkan proses panjang. Jika usulan masuk pada 2026, realisasi pembangunan baru berpotensi dilakukan pada 2028.
Anggaran Hidran Bervariasi Hingga Rp2,5 Miliar
Besaran biaya pembangunan satu hidran tidak seragam. Damkarmat mencatat rata-rata biaya berkisar Rp1 miliar hingga Rp2,5 miliar, sangat tergantung luas wilayah dan tingkat kepadatan kampung.
Untuk kawasan tertentu, kebutuhan anggaran bahkan bisa mendekati Rp3 miliar. Namun, Kampung Pajeksan diperkirakan hanya membutuhkan sekitar Rp750 juta karena luas wilayahnya lebih kecil.
"Jadi sangat tergantung kondisi lapangan," katanya.
Dengan sisa kebutuhan yang masih 50 persen, pemkot masih memiliki pekerjaan besar untuk memastikan perlindungan kebakaran merata di seluruh permukiman padat Kota Yogyakarta.