UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar pameran arsip bertajuk "RINTISAN: Jejak yang Tak Terhapus, Lintas Waktu 1951–1961" pada 21-26 September 2026 untuk membuka kembali sejarah pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri. Dari 48 foto historis yang dikumpulkan, 38 di antaranya dipamerkan bersama 16 surat kabar lama pilihan dari 36 terbitan yang ditelusuri. Pameran ini menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-75 universitas tersebut.
YOGYAKARTA — Pameran arsip di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menampilkan dokumen keulamaan, foto hitam putih, potongan surat kabar, hingga buku lama rentang 75 tahun. Rektor UIN Yogyakarta Prof. Noorhaidi Hasan menyebut arsip sebagai pengingat jasa para pendiri kampus.
"Tema yang diangkat dalam pameran ini sangat penting. Arsip mengingatkan kita pada jasa luar biasa para founding fathers UIN Sunan Kalijaga," kata Noorhaidi pada pembukaan pameran di Yogyakarta, Selasa.
Dua nama yang disebut sebagai peletak dasar pembangunan UIN Sunan Kalijaga adalah K.H. R. Muhammad Adnan dan Muchtar Jahja. Keduanya dinilai selalu melekat dalam jejak sejarah perkembangan universitas.
Embrio Pendidikan Tinggi Islam: dari STI, UII, hingga PTAIN 1951
Noorhaidi menjelaskan, embrio pendidikan tinggi Islam bermula dari Sekolah Tinggi Islam (STI), lalu berlanjut ke Universitas Islam Indonesia (UII). Pada 1951, Menteri Agama K.H. Wahid Hasyim menandatangani piagam yang menandai beroperasinya PTAIN.
Bagi Rektor, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan pijakan yang membantu lembaga memahami arah perjalanannya. Tanpa pijakan itu, institusi berisiko kehilangan orientasi di tengah perubahan zaman.
"Para pendahulu kita selalu berpikir dalam kerangka nasionalisme agar Indonesia dapat terwujud dengan baik. Pendirian PTAIN menjadi salah satu pilar penting dalam menyangga republik. Hal ini menandai bahwa UIN Sunan Kalijaga tidak pernah lepas dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia," katanya.
38 Foto Historis dan 16 Surat Kabar Lama Dipamerkan
Ketua Pelaksana Pameran Arsip Wahyu Setianingsih menyebut pameran dalam rangka Dies Natalis ke-75 ini sebagai bentuk kreativitas arsiparis membawa dokumen keluar dari ruang penyimpanan. Arsip dihadirkan agar dapat berbicara kepada generasi hari ini.
"Arsip bukan sekadar tumpukan dokumen yang disimpan, melainkan memori kolektif, sumber pengetahuan, dan bagian dari identitas kelembagaan," katanya.
Dari 48 foto historis yang dikumpulkan, 38 di antaranya ditampilkan. Dari 36 surat kabar lama yang ditelusuri, 16 terbitan terpilih dipamerkan. Selain itu, sembilan dari 17 dokumen arsip Pakualaman turut ditampilkan, ditambah dua dokumen peraturan serta sejumlah buku karya para tokoh.
Video Dokumenter hingga Kesaksian Keluarga Pendiri Kampus
Pameran dilengkapi video dokumenter yang merekam kesaksian keluarga Prof. Muhammad Adnan, Prof. Muchtar Jahja, dan Dr. Mohammad Damami. Kesaksian itu disusun dalam sejumlah bagian.
"Melalui berbagai arsip tersebut, kami mengajak pengunjung melihat kembali bagaimana PTAIN dirintis, bagaimana para tokoh membangun pendidikan tinggi Islam, serta bagaimana perjalanan itu menjadi bagian dari sejarah UIN Sunan Kalijaga hingga hari ini," kata Wahyu.
Wahyu berharap pameran ini menjadi awal tradisi pemanfaatan arsip sebagai sumber pengetahuan dan pembelajaran sejarah di lingkungan universitas. Kesadaran merawat arsip perlu tumbuh bersama pemahaman bahwa setiap dokumen menyimpan bagian dari memori dan identitas lembaga.
"Sejarah adalah jejak yang ditinggalkan, arsip adalah cara kita menjaganya, dan generasi hari ini adalah penyambungnya," katanya.
Pameran berlangsung 21-26 September 2026 dan menyajikan perubahan besar PTAIN, dari lembaga yang tumbuh dalam kesederhanaan menjadi universitas dengan bidang keilmuan yang semakin luas. Perkembangan itu menempatkan UIN Sunan Kalijaga dalam peta akademik nasional dan internasional tanpa meninggalkan akar sejarah yang membentuk identitasnya.