JAKARTA — Gelombang investasi di sektor industri tekstil dan pakaian jadi diprediksi menjadi motor penciptaan lapangan kerja nasional. Sekretaris Jenderal Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI) Rizal Tanzil Rakhman menyebut efek berganda dari investasi ini akan terasa hingga ke sektor logistik dan ekonomi di sekitar kawasan pabrik.
"Investasi industri tekstil dan pakaian jadi tidak hanya menghadirkan fasilitas produksi. Investasi ini juga menciptakan pekerjaan, meningkatkan ekspor, menggerakkan logistik, dan menumbuhkan kegiatan ekonomi baru di sekitar kawasan industri," ujar Rizal dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.
Pabrik di Brebes Serap 6.000 Pekerja untuk Pasar Ekspor
Proyek terbesar datang dari PT Xinhai Knitting Indonesia yang membangun pabrik tekstil modern di Kabupaten Brebes. Fasilitas produksi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor ini diperkirakan menyerap sekitar 6.000 tenaga kerja, menjadikannya kontributor utama dalam proyeksi pembukaan lapangan kerja periode 2025-2026.
Subang Siapkan 3.800 Formasi di Kawasan Industri Terpadu
Kawasan manufaktur tekstil terintegrasi Subang Smartpolitan juga diproyeksikan menambah ribuan kesempatan kerja. Pengembangan kawasan ini digarap oleh PT Binkova Textiles Indonesia, PT Dafei Textile Indonesia, dan PT Serendipity Fashion Indonesia.
Ketiga perusahaan tersebut diperkirakan mampu menyerap sekitar 3.000 hingga 3.800 tenaga kerja, menjadikan Subang sebagai klaster industri tekstil baru di Jawa Barat.
Demak dan Sumedang Perluas Operasional
Di Kabupaten Demak, PT FHG Tekstil Indonesia telah merekrut sekitar 600 tenaga kerja lokal sejak perusahaan mulai beroperasi. Sementara itu, PT Citra Terus Makmur di Kabupaten Sumedang telah merampungkan perluasan fasilitas produksinya, meski belum memublikasikan jumlah tambahan tenaga kerja yang diserap.
Pabrik di Pemalang Kembali Beroperasi, 1.500 Pekerjaan Pulih
Pemulihan industri juga terjadi di Kabupaten Pemalang. Pengoperasian kembali fasilitas PT Wong Hang Bersaudara dan PT Akarsa Garment berhasil mengembalikan sekitar 1.500 kesempatan kerja yang sempat hilang akibat penghentian operasional perusahaan.
AGTI: Sinergi Pemerintah Kunci Pertumbuhan Industri TPT
Rizal menilai masuknya investasi ini tidak lepas dari dukungan pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga iklim usaha tetap kondusif. Menurutnya, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan perlu terus diperkuat agar industri TPT berkembang berkelanjutan.
"Sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha perlu terus diperkuat. Dengan pasokan bahan baku dan energi yang kompetitif, tenaga kerja terampil, kemudahan investasi, akses ekspor, serta pengawasan terhadap impor ilegal dan praktik perdagangan tidak sehat, industri TPT memiliki peluang besar untuk terus tumbuh dan menjadi motor penciptaan lapangan kerja nasional," kata Rizal.