KULON PROGO — Kabupaten Kulon Progo menghadapi tantangan pembangunan yang kompleks, mulai dari ancaman kekeringan berkepanjangan, alih fungsi lahan pertanian, hingga kebutuhan energi untuk sektor produktif. Menjawab persoalan itu, pemerintah daerah tidak bekerja sendiri, melainkan menggandeng perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, hingga media dalam satu kerangka tata kelola yang adaptif.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) yang merupakan bagian dari Pendidikan Kepemimpinan Nasional (PKN) pada 4-8 Agustus 2026. Fasilitator program, Setia Budi, menyoroti berbagai strategi dan praktik tata kelola pembangunan yang dijalankan pemda bersama para pemangku kepentingan.
Singkong Hingga Lidah Buaya Jadi Andalan Diversifikasi Pangan
Di sektor pangan, Pemkab Kulon Progo mendorong diversifikasi melalui pengembangan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan pemanfaatan pekarangan rumah. Komoditas lokal seperti singkong, ubi, talas, gembili, kacang benguk, cabai, bawang merah, hingga lidah buaya tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah.
Langkah ini diperkuat dengan pelatihan pengolahan pangan serta fasilitasi perizinan Produk Industri Rumah Tangga (PIRT). Pemkab juga menjalin kerja sama dengan akademisi untuk mengembangkan inovasi produk.
Brigade Pompa dan Sumur Pantek: Strategi Hadapi Kekeringan
Untuk menjaga ketersediaan air, pendekatan terpadu dijalankan dengan mengintegrasikan konservasi lingkungan dan pengelolaan irigasi. Reforestasi di kawasan tangkapan mata air, pembangunan sarana pemanenan air hujan, serta pengembangan reservoir komunal menjadi prioritas. Sistem peringatan dini juga diperkuat untuk mengantisipasi kekeringan.
Pada tingkat lapangan, pengaturan tata tanam dan pemetaan wilayah rawan kekeringan dilakukan secara berkala. Kelembagaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) diperkuat, dan Brigade Pompa dibentuk untuk mendistribusikan air secara efisien. Diversifikasi sumber air dilakukan melalui embung, dam parit, irigasi perpipaan, dan sumur pantek demi menjaga produksi pertanian tetap berjalan.
Limasan Tani: Listrik Masuk Sawah untuk Pompa Air
Ketahanan pangan, air, dan energi merupakan satu kesatuan yang saling terkait. Produksi pangan membutuhkan air, sementara pengelolaan air pertanian memerlukan pasokan energi. Untuk menjawab kebutuhan itu, Pemkab Kulon Progo meluncurkan program Limasan Tani atau Listrik Masuk Kawasan Pertanian.
Program ini dirancang untuk mendukung operasional pompa air dan meningkatkan efisiensi kegiatan pertanian. Transformasi digital turut memperkuat tata kelola melalui penerapan Sistem Online Monitoring (Onlimo) yang memantau kualitas air secara berkelanjutan serta mendukung pengelolaan data pertanian dan layanan publik.
Pengalaman Kulon Progo menunjukkan pembangunan daerah membutuhkan kepemimpinan yang mampu membaca perubahan dan mengambil keputusan cepat. Kegiatan VKN ini diikuti sejumlah instansi pusat seperti Kemenko PMK, Kemenko Infrawil, Kejaksaan Agung, LKPP, BPK, KPK, Perpusnas, Sekretariat DPR, serta perwakilan pemda dari Kepulauan Riau, Jambi, Tanah Bumbu, dan Kepahiang.