YOGYAKARTA — Di usia 76 tahun, Mbah Tiwi memilih tetap bekerja. Setiap hari, ia mengayuh sepeda tua dari rumahnya di Kotagede menuju Jalan Kolonel Sugiono, Mergangsan. Jarak 8 kilometer ia tempuh seorang diri demi membuka warung makan yang telah dijalaninya sejak tahun 2000.
Perempuan yang akrab disapa Mbah Tiwi ini mulai berjualan seorang diri setelah suami dan anak laki-lakinya meninggal dunia. Sebelumnya, ia ditemani sang suami, Mbah Lanang, serta anaknya dalam mengelola warung tersebut.
"Jualan dari tahun 2000. Sendirian sekarang (jualan). Dulu sama Mbah Lanang (suami), anak lanang (anak laki-laki). Ada yang membantu dulu, sekarang udah nggak ada yang bantu, sendirian," ujarnya saat ditemui di Mergangsan, Jumat (14/8/2026).
Berjualan Jadi Cara Melawan Rasa Sepi dan Sakit
Mbah Tiwi mengaku tinggal sendirian di rumahnya di Kotagede. Ia kehilangan anak laki-laki satu-satunya sebelum gempa 2006 melanda, disusul kepergian suaminya untuk selamanya.
Meski demikian, semangatnya untuk tetap berjualan tidak pernah padam. Baginya, bekerja adalah obat agar tubuhnya tidak mudah sakit dan pikirannya tidak larut dalam kesepian.
"Ya kalau nggak tak tekuni, tak lakoni terus, pastinya saya malah susah malah dadi sakit-sakitan," tuturnya.
Dagangan Murah Meriah: Nasi Ayam Rp 10 Ribu, Telur Rp 3 Ribu
Warung milik Mbah Tiwi dikenal dengan harga makanannya yang ramah di kantong. Satu porsi nasi ayam dibanderol Rp 10 ribu, sementara nasi dengan lauk telur hanya Rp 8 ribu.
Harga telur godog maupun telur ceplok dijual Rp 3 ribu per butir. Adapun gorengan seperti tempe dan bakwan dibanderol hanya Rp 1.000 per potong.
"Telur 3.000. Telur godog, telur ceplok, sama. Pakai nasi ya Rp 8.000. Nasi ayam Rp 10.000," jelasnya.
Demi Menyiapkan Dagangan, Mbah Tiwi Belanja Sendiri Setiap Hari
Semua pekerjaan warung ia kerjakan tanpa bantuan orang lain. Mulai dari belanja bahan baku, menyiapkan makanan, hingga mengambil air dilakukan sendiri setiap hari.
"(Biasanya) Belanja dulu. Belanja dulu hari gini nih. Pulang dari sini belanja ada kopi mix, ada susu cokelat, susu putih, jahe, ada kopi. Terus belanja, seharinya paling 3-3,5 kilogram ayam dan 2,5 kilogram telur," katanya.
Setiap hari ia membuka warung mulai pukul 11.00 WIB dari Senin hingga Jumat. Dagangannya hampir selalu habis diburu pembeli, terutama saat jam makan siang tiba.
"Nggih, habis terus setiap hari. Biasanya jam 12.00 sampai jam 13.00 itu pada makan. Habis jam segitu," ujarnya.
Viral di TikTok, Pembeli Berdatangan dari Semarang hingga Magelang
Kisah perjuangan Mbah Tiwi mulai dikenal luas setelah videonya tersebar di media sosial. Kini, pembeli tidak hanya datang dari sekitar Yogyakarta, tetapi juga dari luar kota.
"Yang datang, dari ada sing Semarang, Magelang. Itu datang karena TikTok. Ada yang nyari dari TikTok juga alamat rumah," tuturnya.
Meski sudah ramai dikenal, Mbah Tiwi tetap konsisten menjaga harga makanannya tetap murah. Ia ingin dagangannya bisa dinikmati semua kalangan, terutama warga sekitar yang membutuhkan pangan murah.