DI YOGYAKARTA — Program KKN Bersama Kalimantan Universities Consortium (KUC)–Borneo Studies Network (BSN) 2026 berlangsung sejak 13 Juli lalu. Selama tiga pekan, mahasiswa ditempatkan sesuai latar belakang keilmuan di berbagai unit Otorita IKN, mulai dari perencanaan makro, pemerintahan dan perizinan pembangunan, lingkungan hidup, penanggulangan bencana, ketahanan pangan, hingga pengelolaan gedung dan kawasan.
Pesan Basuki: Cari Nilai, Bukan Formalitas
Basuki menegaskan keterlibatan mahasiswa di IKN bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik. Ia meminta peserta mampu memaknai proses yang dijalani sebagai ruang belajar memecahkan persoalan nyata.
"Kegiatan ini bukan hanya untuk survei, tetapi bagaimana cara kita menyelesaikan masalah itu. Jangan sampai mahasiswa KKN ikut kegiatan ini hanya untuk menggugurkan kewajiban saja. Carilah value dan manfaat kegiatannya untuk diri kita sendiri," ujar Basuki dalam sambutannya.
Pernyataan itu relevan dengan desain program yang memang berbeda dari KKN konvensional. Mahasiswa tidak sekadar tinggal di tengah masyarakat, tetapi terlibat langsung dalam dinamika birokrasi pembangunan kota baru.
Dari Ruang Kelas ke Dunia Kerja Pemerintahan
Anang Sulistyo, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat dan Layanan KKN LPPM Universitas Borneo Tarakan yang mewakili Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), menilai pengalaman ini memberi bekal yang tidak diperoleh di bangku kuliah. Mahasiswa dapat mengamati langsung etos kerja, tanggung jawab, dan karakter yang dibutuhkan di dunia profesional.
Aleandra Bonita Khansa Werat, peserta dari Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda, mengaku mendapat pembelajaran unik, khususnya soal penyelarasan regulasi dalam pembangunan Nusantara. Ia mempelajari bagaimana aturan mengenai IKN berhubungan dengan kebijakan lain dalam pembentukan pemerintahan daerah khusus.
Peserta dari Tujuh Kampus Berbeda
Ratusan mahasiswa yang mengikuti program ini berasal dari Universitas Kutai Kartanegara, Institut Teknologi Kalimantan, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Mulawarman, Universitas Balikpapan, Universitas Borneo Tarakan, serta Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. Mereka datang dari beragam program studi seperti agroteknologi, teknik pertambangan, teknik lingkungan, perencanaan wilayah dan kota, hukum, ekonomi bisnis, psikologi, hingga akuntansi.
Keberagaman latar belakang itu membuat penempatan di unit kerja Otorita IKN lebih terarah. Misalnya, mahasiswa hukum masuk ke unit yang menangani regulasi, sementara mahasiswa teknik lingkungan berkutat dengan isu keberlanjutan dan mitigasi bencana.
Bagi para peserta, berakhirnya program KKN tidak menghentikan proses belajar. Pengalaman di IKN menjadi modal untuk memahami bahwa pembangunan kota tidak hanya membutuhkan infrastruktur fisik, tetapi juga sumber daya manusia dengan kapasitas dan integritas.
Program ini sekaligus membuktikan kawasan IKN dapat berfungsi sebagai ruang pembelajaran terbuka bagi generasi muda Kalimantan, menjembatani dunia akademik dengan praktik tata kelola pemerintahan di kota yang tengah tumbuh.